Friday, 14 March 2025

PENGUJIAN DATA SKUNDER DENGAN EVIEWS DAN INTREPRETASI LENGKAP

 

UJI CHOW

 

Redundant Fixed Effects Tests

 

 

Equation: Untitled

 

 

Test cross-section fixed effects

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Effects Test

Statistic  

d.f. 

Prob. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cross-section F

1.061835

(30,60)

0.4112

Cross-section Chi-square

39.605638

30

0.1127

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Uji Chow bertujuan untuk menentukan model yang terbaik antara pendekatan Common Effect atau pendekatan efek tetap (Fixed Effect) yang akan digunakan untuk melakukan regresi data panel. Dasar pengambilan keputusan dalam uji chow dilihat dari nilai probability cross section Chi-square.

 

1.      Jika nilai probability cross section Chi-square > 0,05 , maka model yang dipilih adalah pendekatan common effect.

2.      Jika nilai probability cross section Chi-square < 0,05 , maka model yang dipilih adalah pendekatan fixed effect.

 

Hasil Uji Chow menunjukkan nilai probability cross-section chi-square sebesar 0.1127. Nilai tersebut bernilai diatas 0,05. Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan uji chow yang telah dijelaskan, maka model yang dipilih adalah pendekatan CEM. Setelah melakukan uji chow, dilakukan uji hausman untuk menentukan model atau teknik analisa data panel antara pendekatan common effect dan pendekatan efek tetap atau fixed effect

 


 

UJI HAUSMAN

 

Correlated Random Effects - Hausman Test

 

Equation: Untitled

 

 

Test cross-section random effects

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Test Summary

Chi-Sq. Statistic

Chi-Sq. d.f.

Prob. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cross-section random

6.330318

2

0.0422

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Uji Hausman bertujuan untuk menentukan model yang terbaik antara pendekatan efek acak (random effect) dan metode efek tetap (fixed effect) yang sebaiknya dilakukan dalam pemodelan data panel. Dasar pengambilan keputusan dalam uji hausman dilihat dari nilai probability cross-section random (Widarjono, 2009).

1.      Jika nilai probability cross-section random < 0,05, maka model yang dipilih adalah pendekatan efek tetap (fixed effect).

2.      Jika nilai probability cross-section random > 0,05, maka model yang dipilih adalah pendekatan efek acak (random effect).

 

Berdasarkan hasil estimasi uji Hausman pada tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi probabilitas cross section random lebih kecil dari nilai signifikansi (0.0422< 0.05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa  ditolak dan  diterima, dan demikian model yang dipilih adalah fixed effect model.

 


 

UJI LM

 

Lagrange multiplier (LM) test for panel data

 

Date: 12/10/24   Time: 22:12

 

 

Sample: 2020 2022

 

 

 

Total panel observations: 93

 

 

Probability in ()

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Null (no rand. effect)

Cross-section

Period

Both

 

Alternative

One-sided

One-sided

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Breusch-Pagan

 0.090820

 0.864486

 0.955306

 

 

(0.7631)

(0.3525)

(0.3284)

 

Honda

-0.301364

-0.929778

-0.870548

 

 

(0.6184)

(0.8238)

(0.8080)

 

King-Wu

-0.301364

-0.929778

-0.975594

 

 

(0.6184)

(0.8238)

(0.8354)

 

GHM

--

--

 0.000000

 

 

--

--

(0.7500)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uji LM adalah uji untuk mengetahui apakah model random effect ataukah model common effect yang paling tepat digunakan. Uji LM ini didasarkan pada nilai p value. Jika nilai p value kurang dari 0,05 maka uji LM menerima H1 dan H0 ditolak, artinya model yang baik digunakan yaitu random effect. Begitu sebaliknya jika p value lebih dari 0,05 maka menolak H1 dan H0 diterima yang berarti estimasi yang baik digunakan adalah dengan metode common effect.

Berdasarkan hasil di atas nilai p value sebesar 0.7631yang berarti lebih besar dari 0,05. Maka metode estimasi yang lebih baik digunakan yaitu CEM


 

ASUMSI KLASIK

1.    Uji Normalitas

     Menurut Ahmaddien (2019, 36) Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah suatu model regresi variabel independen dan variabel dependen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik yaitu memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Beberapa metode uji normalitas yaitu dengan melihat penyebaran data pada sumber diagonal pada grafik normal P-P Plot of regression standardized residual atau dengan uji one sample kolmogorov smirnov.




            Berdasarkan uji di atas ,dihasilkan nilai probabilitas sebesar 0.168917 lebih besar dari 0.05,dapat ditarik kesimpulan bahwa model regresi berdistribusi dengan normal

 

2.      Uji Multikolinieritas

Menurut Ahmaddien (2019, 43) multikolinearitas adalah untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linier berganda. Jika ada korelasi yang tinggi diantara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu

 

X1

X2

1

0.2453716353467961

0.2453716353467961

1



            Kriteria penilaiannya jika nilai dibawah 0.8, maka data terbebas dari multikolinearitas, namun jika nilai lebih besar dari 0.8 maka data terjangkit masalah multikolinearitas. Karena data diatas menunjukkan nilai 0.245372, artinya lebih kecil dari 0.8, sehingga dapat disimpulkan bahwa data ini tidak terjangkit masalah multikolinearitas

3.      Uji Heterokedastisitas

Menurut Ahmaddien (2019, 44) Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah terdapat perbedaan varian dari residual antara suatu pengamatan dengan pengamatan lainnya. Jika varian dari residual tetap, maka hal tersebut homoskedasitas namun jika berbeda maka disebut heteroskedatisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Berbagai macam uji heterokedastisitas yaitu uji glejser, melihat pola titik-titik pada scatterplots regresi, atau uji koefisien korelasi Spearman’s rho.




            Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa grafik nya tersebar dengan baik di atas angka 0 dan di bawah angka 0 membuktikan bahwa data nya tidak terjadi heterokedastisitas


 

 

Uji hetero glejser

 

Dependent Variable: ABS_RES

 

 

Method: Panel Least Squares

 

 

Date: 03/11/25   Time: 21:37

 

 

Sample: 2020 2022

 

 

Periods included: 3

 

 

Cross-sections included: 31

 

 

Total panel (balanced) observations: 93

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C

0.452262

0.063358

7.138154

0.0000

X1

0.185546

0.151542

1.224386

0.2240

X2

-0.035402

0.119461

-0.296347

0.7676

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

R-squared

0.016384

    Mean dependent var

0.504513

Adjusted R-squared

-0.005474

    S.D. dependent var

0.334447

S.E. of regression

0.335362

    Akaike info criterion

0.684511

Sum squared resid

10.12206

    Schwarz criterion

0.766208

Log likelihood

-28.82977

    Hannan-Quinn criter.

0.717498

F-statistic

0.749569

    Durbin-Watson stat

1.996038

Prob(F-statistic)

0.475497

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


            Berdasarkan uji di atas dapat dilihat nilai sig yang di regresikan dengan Abs_res bernilai di atas 0.05 membuktikan bahwa variable bebas nya tidak terjadi heterokedastisitas

 

4.    Uji Autokorelasi

     Menurut Ahmaddien (2019, 45) Uji Autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi, yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada periode t dengan residual pada periode sebelumnya (t-1). Model regresi yang baik adalah yang tidak mendapatkan masalah autokorelasi. Uji autokorelasi biasanya untuk data time series (data runtun waktu) sehingga data ordinal atau interval tidak wajib menggunakan uji autokorelasi. Uji autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji statistik Durbin Watson, yaitu dengan membandingkan angka Durbin Watson hitung (DW) dengan nilai kritisnya (dL dan dU). Dengan kriteria penentuan yaitu:

1)   Jika dU < DW < 4-dU maka Ho diterima, artinya tidak terjadi autokorelasi.

2)   Jika DW < dL atau DW > 4-dL maka Ho ditolak, artinya terjadi autokorelasi.

3)   Jika dL < DW < dU atau 4-dU < DW < 4-dL, artinya tidak ada kepastian atau kesimpulan yang pasti.

 

 

 

 

Dependent Variable: Y

 

 

Method: Panel Least Squares

 

 

Date: 03/11/25   Time: 21:43

 

 

Sample: 2020 2022

 

 

Periods included: 3

 

 

Cross-sections included: 31

 

 

Total panel (balanced) observations: 93

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C

0.856174

0.116056

7.377237

0.0000

X1

0.979819

0.277585

3.529793

0.0007

X2

1.082034

0.218822

4.944821

0.0000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

R-squared

0.349662

    Mean dependent var

1.477390

Adjusted R-squared

0.335210

    S.D. dependent var

0.753417

S.E. of regression

0.614296

    Akaike info criterion

1.895045

Sum squared resid

33.96231

    Schwarz criterion

1.976742

Log likelihood

-85.11960

    Hannan-Quinn criter.

1.928032

F-statistic

24.19481

    Durbin-Watson stat

2.017886

Prob(F-statistic)

0.000000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

     berdasarkan table di atas membuktikan bahwa nilai durbin Watson sebesar 2.017886 berada di antara du dan 4 – du, maka dapat disimpulkan bahwa data ini tidak terjadi autokorelasi

 

 

 

PENGUJIAN DATA SKUNDER DENGAN EVIEWS DAN INTREPRETASI LENGKAP

  UJI CHOW   Redundant Fixed Effects Tests     Equation: Untitled     ...